Rabu, 05 November 2014
Catatan Hati Seorang Suami
Beberapa bulan lalu saya menonton sebuah acara tv parodi di sebuah stasiun tv swasta yang pada saat itu membahas suatu hal bertemakan keluarga.
Acara itu membahas tentang impian semua anak di dunia tentang kedua orang tuanya.
Semua anak pasti ingin orang tuanya tetap utuh, sekejam kejamnya ibu, pasti anak ingin ibunya selalu ada di sampingnya, senakal nakalnya seorang ayah, pasti anaknya ingin dia selalu berada di sampingnya.
Seperti sebuah surat elektronik anak perempuan tentang ayahnya, begini bunyinya.
Kupastikan memang aku jarang bertemu ayah dibanding ibu lantaran ayah bekerja di luar rumah, dan pulang ketika kita telah sama - sama letih untuk berbicara satu sama lainnya. Tapi aku percaya mungkin ibu yang lebih sering menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap harinya, tapi aku tahu, sebenarnya ayah lah yang mengingatkan ibu untuk menelponku. Semasa kecil, ibuku yang sering menggendongku, tapi aku tahu, ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih, ayah lah yang selalu menyakan apa yang aku lakukan sepanjang hari walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya dia mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku, kutahu dia kecup keningku dalam tidurku. Saat aku demam, ayah membentak "Sudah diberi tahu jangan minum es!", lantas aku menjauhi ayahku dan menangis di hadapan ibuku, tapi aku tahu, ayahlah yang risau dengan keadaanku sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku. Ketika remaja aku meminta keluar malam ayah dengan tegas melarangku, tapi aku sadar ayahku hanya ingin menjagaku, karena beliau lebih tahu apa yang ada di luar, karena bagi ayah aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku dipercaya olehnya ayah pun melonggarkan peraturannya, maka aku kadang melonggarkan kepercayaannya, ayah lah yang menunggu di ruang tamu dengan rasa sangat risau bahkan sampai menyuruh ibu mengontak teman temanku untuk menanyakan keadaanku. Setelah dewasa walau ibu yang mengantarku ke sekolah untuk belajar tapi aku tahu, ayahku yang berkata "Bu, temanilah anakmu, aku akan pergi mencari nafkah untuk kita bersama". Disaat aku merengek memerlukan ini itu untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi tanpa menolak, beliau memnuhinya dan cuma berfikir kemana beliau harus mencari uang tambahan sedangkan gajiku pas pasan dan sudah tak ada tempat untuk meminjam. Saat aku berjaya, ayahlah orang yang pertama berdiri dan bertepuk tangan untukku, ayahlah yang mengabari sanak saudara bahwa sekarang anaknya sudah sukses. Dalam sujudnya, doa ayah juga tidak kalah dengan doa ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu di dalam hatinya. Sampai aku menemukan jodohku ayahku sangat berhati hati mengijinkannya, dan akhirnya saat ayah duduk melihatku di atas pelaminan bersama pasanganku, ayah pun tersenyum bahagia, lantas aku menengok, ayah sempat pergi ke belakang dan menangis, ayah menangis karena sangat bahagia dan beliau pun berdoa "Ya Tuhan, tugasku sudah selesai dengan baik, bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya". Kuakhiri tulisanku ini dengan sebuah bait lagu, untuk ayah tercinta aku ingin bernyanyi, dengan air mata di pipiku, ayah dengarkanlah, aku ingin berjumpa walau hanya dalam mimpi.Tangisan ayah memang tak pernah kita dengar, agar ia terlihat kuat sehingga kita tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kita merasa tak aman.
Mungkin memang ayah tidak mengandung kita, tapi darah ayah mengalir dalam tubuh kita.
Mungkin ayah tidak menjaga kita setiap saat, tapi dalam doanya, selalu disebut nama kita.
Pelukannya mungkin tak sehangat dan seerat ibu, karena kecintaanya, ia takut tak sanggup melepaskannya, Ia ingin kita mandiri karena ketika mereka tak ada, kau sanggup menghadapi semua sendiri.
Di dalam diri ayah juga terdapat surga bagi kita, dan cintanya sama dengan cinta ibu kepada kita
Maka hormati dan sayangi ayahmu, selagi masih bisa.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar